Open top menu

Selamat datang...disini berisi tulisan-tulisan yang bersifat kontemplatif, sekedar berisi catatan-catatan sederhana tentang sebuah organ pergerakan pelajar di Indonesia, sebuah negara yang sebagaimana dalam sebuah puisi Adhie Massardi disebut dengan Negeri Para Bedebah. Pelajar Islam Indonesia atau Indonesian Moslem Students Association [IMSA] dan biasa disingkat dengan PII, adalah sebuah organ pergerakan pelajar Islam yang terlahir dari tangan dingin seorang pelajar kala itu pada tahun 1927 yang bernama Joezdi Ghozali. Organ ini terlahir di kota (yang dulunya dikenal dengan kota pelajar, entah sekarang...) Yogyakarta. Organ ini mengalami 5 zaman (kemerdekaan, orde lama, orde baru,reformasi dan kini entah apa lagi..) dalam perjalanannya. Jejak haru biru pergerakan ini turut mewarnai konstelasi pergerakan kebangsaan negeri ini, dengan banyaknya kader-kader alumni PII yang merangsek dalam berbagai peran yang ada dari sekedar bloger hingga wakil presiden , terlahir dari perutnya.


Bangga?seharusnya, namun pergerakan ini hingga detik ini terlihat renta dan lelah dengan segala beban sejarah masa lalu yang senantiasa ikut ditarik bersamanya dalam setiap periode ke periodesasi kepenggurusannya dari komisariat hingga tataran PB (Penggurus Besar) bahkan mungkin PKBPII (Perhimpunan Keluarga Besar Alumni PII). Hingga beban ini ketika semakin sarat dengan perjalanan waktu dengan segala dinamikanya, organ ini sebagaimana secara logika etik dapat dengan mudah ditebak, kehilangan dirinya sendiri dan tertumpuk oleh jejak manis sejarahnya. Lantas untuk apa web gratisan ini dibuat?entahlah...Hanya saja web ini memang sederhana sesedehana ide dengan segala kekurangajarannya. Tulisan-tulisan disini ditulis tanpa pretensi maupun kepentingan untuk menampar wajah orang lain, mengumpat nama orang lain bahkan meninjak-injak harga..diri organ dan orang-orang yang masih exist (yang mengaku aktivis) hingga detik ini tulisan terbaca oleh mereka :).


Tanpa berniat untuk ''memberi garam pada lau pun samudera bahkan, yang tentu saja tanpa digarami pastilah sudah berasa asin sekali''.


Dan akhirnyal....silahkan duduk dengan tenang, ambil posisi yang nyawan, sambil menyeduh kopi dan tentu saja menyalakan sebatang rokok (yang merokok) silahkan, dan selanjutnya temani saya untuk berkontemplasi (walau dengan kesederhanaan) tentang PII dengan segala warna-warninya, dengan segala melankolisme sejarahnya, dengan segala kebodohan-kepintaran orang-orang didalamnya dan tentang substantif-filosofis dasar organ ini dalam kini dan nantinya.


Terimakasih dan Salam peluk hangat dari saya haha...
Have a nice day Indonesia






Tandang ke Gelanggang Walaupun Seorang



Pelajar Islam Indonesia atau disingkat dengan PII dengan nama lain di perwakilan luar negeri bernama IMSA (Indonesian MOslem Students Assosiation). Organ pergerakan pelajar dan mahasiswa ini mempunyai tujuan  Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi segenap Bangsa Indonesia dan umat manusia Pelajar Islam Indonesia merupakan organisasi Islam eksternal sekolah untuk para Pelajar hingga mahasiswa. PII adalah organisasi yang berasaskan Islam dan berdiri Independent (bukan merupakan Underbow dari Organisasi manapun). Bergerak dibidang pendidikan, non Partai. Dimana organisasi ini didirikan sebagai usaha untuk kaderisasi muslim cendikia, dan pemimpin yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu faktor pendorong terbentuknya Pelajar Islam Indonesia (PII) adalah dualisme sistem pendidikan di kalangan umat Islam Indonesia yang merupakan warisan kolonialisme Belanda, yakni pondok pesantren dan sekolah umum. Menindaklanjuti keputusan kongres, pada Minggu, 4 Mei 1947, diadakan pertemuan di kantor GPII, Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta. Pertemuan itu dihadiri Joesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani dan Amien Syahri dari GPII Bagian Pelajar, Ibrahim Zarkasji dari Yahya Ubeid dari Persatuan Pelajar Islam Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari Pergabungan Kursus Islam Sekolah Menengah (PERKISEM) Surakarta, serta Dida Gursida dan Supomo NA dari Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Rapat yang dipimpin oleh Joesdi Ghozali itu kemudian memutuskan berdirinya organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) tepat pada pukul 10.00, 4 Mei 1947 M/ 12 Jumadits Tsani 1366 H.

Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, terbentuk lasykar-lasykar dari rakyat banyak yang turut membantu TKR (Tentara Keamanan Rakyat)antara lain TRI Hizbullah, BPRI (Baris dan Pemberontakan RI), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur), Sabilillah, Tentara Pelajar IPPI, TPI (Tentara Pelajar Islam Aceh), CM Corps – Mahasiswa, CP (Corps Pelajar Solo) dan lain sebagainya. Brigade PII diresmikan pada tanggal 6 November 1947 dengan Komandan Abdul Fattah Permana. Brigade PII juga terlibat dalam perlawanan terhadap pemberontakan PKI di Madiun. Pada saat itu, Komandan Brigade PII Madiun Surjo Sugito yang masih belajar di Sekolah Menengah, tewas. Ketika era bawah tanah, peran Brigade yang paling utama adalah menyelamat missi dan eksistensi organisasi. Tak jarang Brigade memainkan peran yang seharusnya diperankan oleh badan induk PII yang sedang dibekukan oleh pemerintah Orde Baru. Pada awalnya gagasan Korps PII Wati lahir di Training Centre (TC) Keputerian PII se-Indonesia yang dilaksanakan pada tanggal 20-28 Juli 1963 di Surabaya.

Dalam TC berkembang kesadaran kuat untuk meningkatkan peranan dan kualitas kader dan kepemimpinan PII Wati serta menghapus citra negatif peran PII Wati hanya sebagai pengelola konsumsi. Selain itu juga ada fakta bahwa kesempatan bagi pelajar puteri untuk mengembangkan diri di PII relatif lebih terbatas dan pendek dibandingkan pelajar putra. Selanjutnya dalam sidang keputerian Muktamar PII X Juli 1964 di Malang, Koprs PII Wati Yogyakarta Besar diwakili St. Wardanah AR, Masyitoh Sjafei dan Hafsah Said mengajukan usulan pembentukan Koprs PII Wati. Sementara Sri Sjamsiar dari PB PII juga mengajukan usul serupa. Kedua usulan itu diterima dalam Muktamar tersebut. Akhirnya pada tanggal 31 Juli ditetapkan sebagai Hari lahir PII Wati.

0 komentar